Ritual Rambut Sewu...
Berawal dari kisah Perempuan
berusia tujuh puluh dua tahun, yang biasa disapa dengan panggilan Mbok Ijah.
Tanpa diminta ia mengisahkan
tentang pengalamannya mengajarkan Ritual Rambut Sewu kepada empat
puluh tiga orang. Mbok Ijah ingin melepaskan rasa sesak di dadanya yang selama
ini menyiksanya hingga menekan sampai tidak ada ruang lagi untuk bernafas.
Mbok Ijah masih sangat jelas
mengingat empat puluh tiga orang yang telah menimba ilmu Ritual Rambut Sewu.
Mulai dari raut wajah mereka, serta alasan mereka datang ke Mbok Ijah, hingga ekspresi
wajah mereka saat Mbok Ijah menjelaskan Langkah-langkah ritual. Campuran antara
harap dan takut yang selalu terlihat sama di wajah siapapun yang datang dengan
niat seperti itu.
Namun Mbok Ijah sudah tidak
mengetahu keberadaan empat puluh tiga orang itu, apakah ada yang masih hidup
atau tidak karena sudah lama berhenti menghitung.
Selama empat puluh tahun Mbok
Ijah tinggal di Kampung Petamburan yang berlokasi di Jakarta Pusat. Di rumah
kecil yang hanya ada dua kamar. Dengan tembok triplek dan di satu sisi yang
berbatasan langsung dengan rumah tetangga yakni Bu Eni, janda tiga anak yang
kalau marah suaranya terdengar sampai dua rumah ke depan.
Saking padatnya sehingga tidak
ada yang namanya privasi. Bisa dibilang dinding saja bisa bicara hingga semua
orang tahu urusan semua orang.
Mulai dari pertikaian suami
istri, siapa yang belum bayar kontrakan tiga bulan, siapa yang diam-diam pergi
ke dukun dan siapa yang pura-pura tidak tahu padahal sudah lama kasak-kusuk di
belakang. Dan di kampung inilah orang-orang datang ke Mbok Ijah tidak dengan
cara yang dramatis.
Mbok Ijah mengajarkan untuk tidak
perlu malu untuk datang. Bebas waktunya tidak perlu tengah malam atau
sembunyi-sembunyi.
Guru pertama bagi Mbok Ijah
Adalah ibunya sendiri. Tidak secara formal tapi Mbok Ijah hanya melihat,
memperhatikan dan tanpa disadari telah menyerap ilmu dari ibunya.
Ibunya Mbok Ijah berasal dari
Banyumas. Keluarganya sudah sudah lama hidup berdampingan dengan hal-hal yang
tidak bisa dijelaskan dengan cara biasa. Bukan dukun. Bukan orang pintar. Tapi
orang yang tahu. Yang paham bahwa di antara yang kelihatan dan yang tidak, ada
ruang abu-abu yang bisa dimanfaatkan. Jika tahu caranya, kalau paham risikonya,
kalau cukup hati-hati.
Dari ibunya, Mbok Ijah banyak
belajar banyak hal. Tapi Ritual Rambut Sewu itu yang paling
dalam. Yang paling kuat. Yang paling berbahaya.
Mbok Ijah mengenang bagaimana
dulu saat pertama kali ia dijelaskan dengan serius, saat masih usia dua puluh
tahunan. Ibunya berkata:
"Ilmu ini seperti pisau. Di
tangan yang tepat, bisa menyelamatkan. Di tangan yang salah, bisa membunuh. Dan
yang paling berbahaya, saat tidak bisa bedakan tangan mana yang tepat dan mana
yang salah sebelum terlambat."
“Hati-hati, Nduk. Soal
konsekuensi yang kamu harus siap tanggung kalau kamu salah pilih."
Dan kini Mbok Ijah mengerti akan
maksud petuah ibunya.
Orang pertama yang diajarkan
ritual oleh Mbok Ijah Adalah tetanggaya sendiri, yang Bernama Wati. Usianya
sekitar tiga puluhan. Niat utama Wati belajar ritual karena suaminya selingkuh
yan sudah berlangsung dua tahun. Sudah ada anak di luar, dan suaminya tidak ada
niat berhenti. Niat Wati hanya satu, ia ingin suaminya Kembali.
Mbok Ijah bisa melihat kalau niat
Wati Murni hingga ia mengajarkan ritualnya. Dan sebulan kemudian suami Wati
memang Kembali.
Wati senang. Suaminya kembali
tapi berubah menjadi lebih patuh, lebih tidak punya inisiatif, seperti
seseorang yang berjalan di dalam mimpi. Perempuan simpanannya jatuh sakit
mendadak dan pindah keluar kota.
Ritual itu berhasil. Tapi di
bulan ketiga setelah ritual selesai, rambut Wati rontok habis. Dalam waktu tiga
minggu, Wati yang tadinya punya rambut panjang lebat menjadi hampir botak.
Di awal Mbok Ijah sudah bilang,
ada harga yang harus dibayar. Tapi orang yang datang dalam kondisi seperti
Wati, mereka dengar tapi tidak mendengarkan. Mereka hanya mau ritual berhasil,
dan harganya itu urusan nanti.
Mbok Ijah bercerita, dari empat
puluh tiga orang yang ingin belajar ritual, memiliki pola yang sama walau
datang datan dengan cerita yang berbeda.
Mereka datang dengan kesedihan
atau kemarahan atau keputusasaan yang sangat nyata. Mbok Ijah mendengarkan
dengan seksama, menilai dan mengajarkan.
Sebagian besar dari mereka
ritualnya berhasil dan mereka membayar harganya.
Dari semua yang membayar harga
itu, tidak ada satu pun yang kemudian datang dan bilang bahwa mereka tidak
menyesal.
Tidak satu pun.
Yang mereka sesali berbeda-beda:
- Ada yang menyesal karena harganya terlalu tinggi.
- Ada yang menyesal karena hasil ritualnya tidak seperti yang mereka bayangkan.
- Ada yang menyesal karena orang yang mereka ikat dengan ritual ternyata bukan orang yang layak untuk diikat.
Tapi semuanya menyesal.
Dan Mbok Ijah yang mengajarkan
mereka menanggung berat dari semua penyesalan itu.
Dari sekitar empat puluh tiga
orang, ada satu yang sampai sekarang tidak bisa di lupakan oleh Mbok Ijah. Yakni
seorang gadis muda bernama Rini. Usianya delapan belas tahun waktu pertama
datang ke Mbok Ijah.
Rini datang bukan karena cinta.
Bukan karena disakiti. Dia datang karena ibunya sakit keras dan biaya
pengobatannya tidak ada. Dan ada seseorang — laki-laki tua kaya — yang sudah
lama mengincar dia. Yang menjanjikan biaya pengobatan ibunya asal Rini mau jadi
istrinya.
Rini tidak mau, tetapi ibunya
sekarat.
Rini datang ke Mbok Ijah dan
bertanya. “Apakah ada cara untuk membuat laki-laki tua itu mencintai ibunya dan
bukan dirinya. Supaya laki-laki itu mau bayar biaya pengobatan tanpa Rini harus
jadi taruhannya.
Mbok Ijah mendengarkan, menilai dan seharusnya menolak permintaan Rini.Karena dari semua yang Mbok Ijah rasakan waktu mendengarkan Rini, ada sesuatu yang memberitahu Mbok Ijah bahwa ini bukan situasi yang ritual bisa selesaikan dengan baik. Terlalu banyak variabel. Terlalu banyak pihak. Terlalu kompleks untuk dikendalikan oleh satu ritual.
Dengan tangisan Rini dan kondisi ibunya
yang sekarat. Mbok Ijah mengajarkan ritualnya. Dan berhasil. Ritual berhasil
dalam arti yang sangat sempit.
Laki-laki tua itu membayar biaya
pengobatan ibu Rini.Tapi dia tidak mencintai ibunya Rini. Malah terobsesi pada
keluarga Rini dengan datang setiap hari, mengatur urusan rumah tangga mereka,
mengklaim bahwa dia adalah pelindung keluarga itu.
Pada akhirnya Ibu Rini sembuh.Tapi
mereka tidak bisa bebas dari laki-laki tua itu. Dan kondisi Rini rambutnya
mulai rontok sebagai harga ritual. Pada suatu pagi, tiga bulan kemudian Rini ditemukan
pingsan di kamarnya.
Dibawa ke rumah sakit. Tidak
sadarkan diri selama dua minggu. Saat sadar, Rini tidak ingat apapun tentang
ritual itu.
Tidak ingat kalau pernah datang
ke Mbok Ijah. Tidak ingat satu pun langkah-langkah ritual yang pernah diajarkan.
Hanya ingat namanya sendiri dan wajah ibunya. Dua tahun terakhir hidupnya, hilang.
Dokter tidak bisa menjelaskan. Mbok Ijah bisa, tapi tidak berani.
Setelah kasus Rini, Mbok Ijah
mengambi keputusan untuk berhenti. Benar-benar berhenti setelah selama delapan
tahun.
Mbok Ijah berpikir bisa mulai
berdamai. Mungkin empat puluh tiga kesalahan itu bisa pelan-pelan Mbok Ijah terima
sebagai bagian dari hidup yang tidak sempurna tapi sudah di jalani sebaik yang Mbok
Ijah bisa.
Sampai tiga bulan lalu. Datang Perempuan
berusia empat puluhan Bernama Sri.
Sri tidak datang untuk minta Mbok Ijah ajarkan ritual. Sri datang karena putrinya, yang bernama Dinda.
Kedatangan Sri mengingatkan Mbok
Ijah pada sosok perempuan berusia tiga puluhan waktu itu. Datang ke Mbok Ijah
tujuh tahun lalu. Alasannya, merasa hidupnya tidak berkembang. Merasa energinya
selalu terkuras. Ingin ritual untuk menarik energi dari lingkungan sekitarnya
supaya dia bisa lebih kuat. Namun Mbok Ijah menolaknya karena ritual tidak bisa
dipakai untuk itu.
Perempuan itu pergi dengan wajah
kecewa. Sebelum pergi, dia bertanya cukup banyak. Cukup dalam. Bertanya dengan
cara yang membuat Mbok Ijah tidak nyaman karena pertanyaannya sangat spesifik.
Sangat teknis.
Perempuan itu Adalah Ibu kandung
Mila, teman Dinda. Yang telah membuat Dinda jatuh sakit tapi bukan sakit biasa.
Dan ibunya mengajarkan ke Mila
dengan cara yang salah. Dimodifikasi, diubah untuk tujuan yang lebih gelap.
Mila tidak tahu apa yang dia
lakukan. Mila tidak tahu bahwa dia sudah menjadi pelaku.
Ibunya mengajarkannya sebagai
sesuatu yang biasa. Sebagai warisan. Sebagai cara bertahan hidup.dan teman
baiknya, Dinda sedang membayar harganya.
Mbok Ijah mempunyai harapan, Dinda
dan Mila masih bisa diselamatkan. Mbok Ijah dan Mila bekerja sama.
Mbok Ijah mengajarkan cara
memutus yang sudah berjalan, bukan dengan ritual baru, tapi dengan cara
melepaskan. Cara menutup jalur yang sudah terbuka. Cara mengembalikan apa yang
sudah mengalir ke tempat asalnya.
untuk pertama kalinya dalam
delapan tahun, Mbok Ijah merasa bahwa mungkin ada satu dari empat puluh tiga
kesalahannya yang bisa diperbaiki. Dinda bisa kembali normal sudah mau
makan.
Namun semua kembali berubah saat Ibu
Mila pulang dan melihat apa yang sudah berubah, merasakan bahwa jalur yang sudah dia bangun
selama bertahun-tahun, yang sudah dia ajarkan ke putrinya, yang sudah
mengalirkan sesuatu masuk ke keluarganya. Jalur itu sedang ditutup.
Dinda kembali tidak sadarkan
diri, Dokter bilang kondisinya stabil tetapi tidak sadar. Dan tidak ada
penjelasan medis untuk kenapa.
"Ibu Mila menutup kembali
apa yang sudah Mila dan Mbok Ijah buka. Lebih dari menutup, ia mempererat.
Memastikan jalurnya tidak bisa diganggu lagi. Dan untuk memastikan itu, ia
butuh sesuatu yang lebih kuat dari sebelumnya. Ia butuh jaminan, dan jaminan
itu adalah Dinda.
Di usia rentanya Mbok Ijah sudah
tidak sekuat dulu. Ibu Mila masih muda. Masih kuat. Dan sudah bertahun-tahun
menggunakan dan menyempurnakan apa yang Mbok Ijah tolak untuk ajarkan kepadanya
tujuh tahun lalu. Mbok Ijah tidak bisa melawannya. Mbok Ijah duduk diam dengan
satu kenyataan yang tidak bisa dipeluk dan tidak bisa dilepas.
Ibunya Mila setelah tujuh tahun datang
kembali dengan cara yang tidak diduga. Bukan ke Mbok Ijah tetapi ke Mila,
putrinya. Mengajarkan hal yang lebih gelap dari apapun yang pernah Mbok Ijah ajarkan
ke siapapun. Dengan menggunakan pengetahuan yang sebagian besar berasal dari Mbok
Ijah.
Mbok Ijah menyesali bukan dari empat
puluh tiga orang itu, tetapi keempat puluh empat, yakni satu orang yaitu ibunya
Mila, yang tidak pernah resmi mbok Ijah ajarkan dan di tolak dari depan pintu. Yang
mengajarkannya ke orang lain dengan cara yang jauh lebih gelap dari yang pernah Mbok Ijah bayangkan.
Ritual Rambut Sewu tidak bisa Mbok
Ijah tarik kembali dari empat puluh tiga orang yang sudah pernah diajarkan.Tapi
dari yang keempat puluh empat, dari yang tidak resmi, yang hanya bertanya dan Mbok
Ijah jawab karena dipikir pertanyaan saja tidak berbahaya tapi dari situlah
kerusakan yang paling dalam bermula.
Seperti api yang ditiup angin. Makin
jauh dari sumbernya. Makin tidak bisa dipadamkan.
Mbok Ijah menutup mata. Dan untuk
pertama kalinya dalam tujuh puluh dua tahun hidupnya, ia berdoa supaya tidak
panjang umur. Supaya tidak perlu menyaksikan sampai mana apinya akan sampai.
.png)
.png)
.png)
Penuh misteri tentang ritual yang cukup melegenda
ReplyDeletebikin penasaran ya filmnya
Delete