Makhluk berbulu itu adalah seekor
kucing, yang tanpa sengaja masuk dalam kehidupan saya, yang sebelumnya sangat
takut bahkan sekedar terkena hempasan ekornya.
Punya kucing pertama, tanpa
disengaja karena almarhum suami saya menolong anak kucing yang ingin dibuang
oleh pemilik rumah, saat saya masih tinggal di wilayah Srengseng, Jakarta
Barat.
Kucing berjenis mixdom Himalayan
ini tumbuh tanpa kasih sayang saya, karena saat itu saya masih belum berani
memegangnya. Hanya suami saya yang sangat menyayanginya saat itu.
Kucing pertama saya ini dikasih
nama Cemong oleh almarhum suami saya, karena bentuk hidungnya dan warna bulunya
yang bercampur hitam..
Kehadiran Cemong menghibur
kehidupan kami, perannya sudah seperti anak kandung. Cemong menemani saya
berpindah tempat hingga 3 daerah. Cemong sudah menemani kami (saya dan suami)
selama kurang lebih 4 tahun, hingga kejadian tragis yang merenggut nyawanya.
Cemong Family
Untuk menemani Cemong di rumah, sekitar tahun 2019 saya dan suami mengadopsi kucing betina yang kami beri nama Chibi. Chibi merupakan kucing jenis Persia.
Bersama Cemong lahirnya anak-anak
imut yang mulai ramai meneani kami. Ada Kimmy, Hiro, Cika, Kyra, Ciko, Cio,
Cia, Chiro, Snowy, Miki hingga Zio.
Di Tinggal Almarhum Suami
Phase terberat dalam hidup saya
Adalah Ketika kehilangan almarhum suami setelah bangkit dari kehilangan kedua
orang tua. 3 tahun saya baru bisa menata hidup lagi, bisa menikmati makanan
lagi. Kepergiannya yang terlalu cepat masih terasa mimpi.
Otomatis semua tanggung jawab
kehidupan ada dipundak saya semua. Paska kepergian suami, anak bulu lagi
diposisi 11 ekor. Selama setahun saya bisa menghandle sendiri, selepas itu saya
gak sanggup karena harus sibuk mencari rezeki untuk menunjang kehidupan.
Dengan berat hati saya bekerja
sama dengan beberapa petshop untuk open adopsi anabul. Sampai sekarang masih
suka sedih kalua ingat anak-anak yang harus terpisahkan. Dalam hati selalu
terselip doa untuk mereka semoga baik-baik saja kondisinya, dan saya selalu
meminta maaf sama para anabul.
“maafin bunda ya nak, tidak bisa
lagi menjagamu dengan sepenuhnya.”
Hati saya mengharu biru menulis
ini. Saat ini hanya ada Zio semata wayang yang menemani saya dan beberapa stray
cat yang datang silih berganti, untuk sekedar minta makan dan stay di luar.
Dari sekian banyak stray cat yang
singgah d rumah hingga melahirkan beberapa anaknya, semuanya kucing oyen yang
dibilang banyak orang sebagai kucing yang bar-bar. Tapi oyen yang singgah
dirumah saya semua anak baik. Mereka semua punya kenangan baik yang gak bisa
saya lupakan.
Ada 1 oyen yang sampai sekarang
saya masih suka sedih kalau mengingatnya. Oyen dengan bentuk garis tubuhnya
yang unik. Saya sudah mengenalnya dari kecil, dia kuat bertahan jadi kucing
jalanan yang biasa stay di sekitar mushala area perumahan tempat tinggal saya.
One day .. Setelah dewasa dia
baru mau datang kerumah saya. Bahagianya saya!
Sampai suatu Ketika saya dapat
kabar buruk dari tetangga, kalau oyen sudah terbujur kaku di bawah mobil
tetangga. Dan sedihnya saya gak bisa lihat keadaannya di hari terakhir oyen. Sedih
banget kalau ingat momen itu.
Terlepas oyen pergi karena apa,
saya hanya bisa berharap oyen pergi bukan karena dijahati orang. Karena ada
orang-orang yang jahat sama kehadiran kucing liar. Andai oyen dijahati oleh
orang itu semoga Tuhan memberikan balasan setimpal dengan kejahatan yang sudah
dia lakukan!
Doa terbaik untuk anabul
kesayangan yang pernah hadir dalam hidup saya. Semoga Allah memberikan jalan
rezeki seluas samudera agar saya masih bisa terus menebar kebaikan untuk para
anak bulu, walau hanya dengan sedikit bantuan makanan untuk mereka.







No comments:
Post a Comment
Mohon jangan berkomentar SPAM, terimakasih.