Monday, 9 December 2019

VIVAtalk - Perempuan Berdaya Indonesia Maju di Era Digital


VIVAtalk - Perempuan Berdaya Indonesia Maju di Era Digital


Kesetaraan gender walaupun sudah sejak lama digaungkan tapi tetap saja masih ada yang memperlakukan perempuan dengan tidak semestinya, dengan masih banyaknya kasus KDRT, pelecehan seksual hingga memandang keberadaan perempuan dengan sebelah mata. Mirisnya seringkali perlakuan ini dilakukan oleh orang terdekat.

Dalam rangka menyambut hari ibu yang ke-91 di tahun ini VIVAtalk bersama Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Republik Indonesia menyelenggarakan diskusi yang mengupas tentang peran perempuan dengan tema "Perempuan Berdaya Indonesia Maju, Perempuan di Era Digital” yang berlokasi di Hotel Millenium, Jakarta.


Perempuan dan Keluarga

Perempuan merupakan makhluk ciptaan Tuhan paling spesial, dan saya bangga terlahir sebagai perempuan. Melalui perempuanlah regenerasi manusia ada, tentunya lewat peran laki-laki juga yang berperan sebagai penyumbang sperma untuk proses membentuk manusia baru. Peran perempuan sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya, bahkan sejak dalam kandungan seorang anak sudah mempunyai kontak batin dengan ibunya.

Namun seringkali ketika terjadi kasus dalam hal tumbuh kembang anak selalu pihak perempuan yang menjadi pelaku utamanya. Padahal mengasuh anak merupakan tugas bersama, peran ayah dan ibunya harus seimbang. Stigma peran perempuan yang lebih banyak berada dirumah dan berperan sebagai ibu rumah tangga, seolah memberikan beban pengasuhan anak berada di tangan seorang ibu saja, dan tugas laki-laki hanya bekerja mencari nafkah. Lalu gimana kondisinya jika ternyata peran pencari nafkah dilakukan berdua antara suami istri!

Kesetaraan gender dan perlunya kerjasama antara suami istri sangat penting, Perbedaan antara perempuan dan laki laki hanyalah kodrat. Alhamdulillah saya mempunyai pasangan yang sangat bisa bekerjasama terutama dalam mengerjakan pekerjaan rumah, walaupun sama-sama bekerja.


Bulan Desember merupakan bulan yang spesial untuk perempuan, karena tiap tanggal 22 Desember kita selalu memperingati Hari ibu. Dan momen hari ibu ini bukanlah sekadar perayaan saja, tetapi merupakan tongak emansipasi untuk mewujudkan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, ujar Bapak Henky Hendranantha selaku Chief Operating Officer (COO) VIVA Networks.




Hari ibu merupakan momentum perjuangan perempuan Indonesia. Perempuan khususnya kaum ibu, memiliki peran penting dalam keluarga untuk memberikan pendidikan pertama dan utama bagi anak-anaknya. Yang mana ini erat kaitannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Bapak Hengky juga menyampaikan, pada 2030 mendatang negara kita akan menghadapi bonus demografi, di mana kaum perempuan akan lebih memiliki tantangan dalam memanfaatkan hal ini.

Artinya dalam bonus demografi itu perempuan harus memiliki keterampilan yang lebih baik, baik untuk dirinya, keluarga, dan negara. Harapan ke depan, perempuan Indonesia menjadi perempuan tangguh dan mampu bersaing menghadapai kemajuan teknologi di era digital.

Partisipasi perempuan berdaya dapat meningkatkan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) di suatu negara, termasuk di negara kita Indonesia. Oleh karena itu perlu peran dan kebijakan pemerintah yang mendukung perempuan untuk berdaya, ujar Bapak Indra Gunawan selaku Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Republik Indonesia.



Masih banyak yang memandang sebelah mata dengan kemampuan perempuan dalam meningkatkan perekonomian keluarga, padahal sudah banyak peran perempuan yang mampu menopang kehidupan ekonomi keluarganya bahkan memperkuat perekonomian nasional berkat peran perempuan.

Bapak Indra juga menegaskan bahwa perempuan berdaya, akan menjadi pendorong terwujudnya peningkatan kualitas hidup perempuan, yang kemudian akan dapat mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan visi pembangunan untuk mewujudkan SDM Unggul, begitu juga dalam pembangunan ekonomi di bidang mikro.


Perbedaan Daya Perempuan dan Laki-laki

Seringkali kita mendengar ketika seorang perempuan yang telah menjadi ibu berkarya diluar rumah atau bekerja selalu ada pertanyaan nanti anaknya dengan siapa? Tetapi kalau ada laki-laki yang bekerja di luar tidak ada pertanyaan tersebut. Padahal pada dasarnya tiap individu itu sama, kemampuan yang inheren pada manusia ada di laki laki dan perempuan.

Bapak Eko Bambang Sudiantoro selaku Chief of Research at Polmark dan Aliansi Laki-Laki Baru mengatakan bahwa kodrat perempuan dan laki-laki itu berbeda dan tidak bisa ditukar. Kodrat perempuan seperti menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui itu tidak mungkin dimiliki oleh laki-laki. Sedangkan kodrat laki-laki itu membuahi (memiliki sperma).




Peran dan keterlibatan laki-laki dari berbagai aktivitas. Keterbukaan laki-laki sebagai fundamental kemajuan perempuan. Dukungan laki-laki yang selama ini memiliki privilege di masyarakat secara gender kepada perempuan akan sangat berpengaruh bukan hanya mendekatkan pada nilai dirinya sendiri tapi juga pada upaya pemberdayaan perempuan.

Dukungan laki-laki yang selama ini memiliki privilege di masyarakat secara gender kepada perempuan akan sangat berpengaruh bukan hanya mendekatkan pada nilai dirinya sendiri tapi juga pada upaya pemberdayaan perempuan. Memang sih tanpa disadari privilege dari laki laki kadang menghambat perempuan dalam menjalankan perannya secara maksimal di era digital.


Perempuan Berdaya

Gender, bagaimana budaya di indonesia masih budaya patriaki, banyak harapan yang disematkan pada laki-laki dan perempuan, dimana perempuan hanya dirumah mengerjakan pekerjaan rumah dan laki-laki bekerja mencari nafkah.

Di era RA Kartini dahulu perempuan tidak boleh sekolah. Tapi sekarang dengan perubahan gender, sudah banyak perempuan yang sekolah, bahkan sampai tinggi. Meskipun memang masih ada ketimpangan gender. Tapi itu bisa diubah. Sekarang peluang dan kesempatan untuk perempuan lebih maju itu sangat terbuka. Tinggal bagaimana kesepakatan bersama keluarga dan lingkungannya saja.




Dr. Sri Danti Anwar, Pakar Gender, mengatakan kalau saat ini dunia semakin terbuka. Dimana saat ini banyak laki-laki yang juga banyak berbagi tugas dengan perempuan, ada yang mengantar anak sekolah, berbelanja bahkan mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak. Sedangkan perempuan juga berkarir dan bahkan mempunyai penghasilan lebih tinggi dari pasangannya. Dan sudah kelihatan lumrah di masyarakat atau pandangan umum.

Image laki-laki di era digital sekarang ini bukan laki-laki yang sekedar maskulin, jagoan berantem atau berkuasa tetapi laki-laki yang tidak menyakiti perempuan, sayang keluarga dan saling pengertian.

Selama ini, menurut ibu Danti, Kemen PPPA telah bekerja sama dengan tokoh agama untuk kampanye perspektif gender ini. Memang kerjasama, sinergi dan kolaborasi diperlukan dalam kesuksesan programnya. Yang mana tolak ukurnya adalah bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Tak hanya itu, demi mencapainya, saat ini gender mainstreaming juga telah dimasukkan dalam rencana pembangunan jangka menengah dan panjang.

Kesetaraan gender bukan berarti laki-laki dan perempuan saling berkompetisi tetapi bagaimana perempuan dan laki-laki bisa saling menghormati dan menghargai perannya masing-masing sehingga tidak ada lagi diskriminasi. Penguatan skill dan literasi itu sebenarnya yang menjadi Pekerjaan Rumah utama kita, agar perempuan berdaya di era digital saat ini kemampuan literasi itu harus mumpuni.


Perempuan Kreatif di Era Digital

Media sosial bagi perempuan bukan sekedar untuk narsis atau stalking informasi terkini. Tapi kita harus bisa memanfaatkan kehadiran media sosial untuk menambah penghasilan. Bisnis di era digital memang menjadi tantangan juga buat perempuan dalam berdaya saing. Sehingga tiap perempuan punya akselerasi aktif secara ekonomi.

Di era digital kesenjangan masih terjadi sehingga perlu edukasi literasi digital, salah satunya meningkatkan pemberdayaan perempuan khususnya di bidang ekonomi. Proses digital ke depan setiap individu mempunyai kemampuan yang tidak dibatasi lagi oleh sekat-sekat gender. Ekonomi perempuan bisa setara bahkan lebih dari laki-laki, perempuan maju membutuhkan prespektif setara dari pasangannya.



Diajeng Lestari selaku Founder HIJUP, mengawali kariernya sejak usia 25 tahun dan diawali hanya dengan memiliki 2 karyawan saja, usahanya semakin berkembang dan kini telah mempunyai 200 partner brand fashion.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, seharusnya kita mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan pasar dengan maksimal. Sayangnya masyarakat kita masih menjadi konsumen terbesar dan belum menjadi produsen. Indonesia masih menempati peringkat ke-6 sebagai negara yang melakukan ekspor ke banyak negara OKI. Semoga nanti negara kita bisa menjadi produsen dan masuk 10 besar dunia ya.




Melihat peluang bahwa Indonesia menjadi salah satu konsumen terbanyak dalam hal fashion muslim, sehingga menggerakkan mbak Diajeng untuk membuka bisnis HIJUP. Negara pengekspor terbesar ditempati oleh China, India, dan Turki. Kebijakan negara China dan India yang mendukung industri manufaktur sehingga sulit bagi negara kita untuk bersaing. 
Produsen fashion Indonesia bisa memproduksi pakaian yang sustainable seperti yang lagi marak belakangan ini. Semoga ke depannya makin banyak lagi perempuan yang terjun dipasar digital, sehingga bisa lebih memajukan perekonomian Indonesia.

No comments:

Post a comment

Mohon jangan berkomentar SPAM, terimakasih.