Wednesday, 22 February 2017

Writing Therapy: Belajar Memaafkan Diri Sendiri


Writing Therapy: Belajar Memaafkan Diri Sendiri


Menulis adalah cara termudah menuangkan segala rasa yang kita miliki, bagi orang yang punya kepribadiaan tertutup dengan cara menulis bisa mengeluarkan segala rasa gundah gulana yang ada didalam hati. Pada dasarnya semua orang bisa menulis, contohnya dari hal yang terkecil dulu misalkan dengan menulis status di akun sosial media atau berinteraksi dengan orang lain melalui smartphone melalui pesan singkat (sms).


Apa sih menulis itu?

Menulis adalah menuangkan ide ke dalam suatu tulisan. Menulis merupakan suatu cara bicara atau menyapa tanpa berhadapan langsung. Di era digital seperti saat ini kita berinteraksi dengan orang lain lebih banyak melalui tulisan lewat media internet, baik dengan orang yang kita kenal atau pun tidak bahkan dengna orang yang kita tidak mengetahui keberadaannya dimana. Media sosial memudahkan kita dalam berinteraksi dengan banyak orang.




Beberapa waktu lalu saya mengikuti acara Writing Therapy yang diadakan oleh Delima Project. Ada yang sudah tahu mengenai Writing Therapy itu apa? Kalau belum baiklah saya jelaskan sedikit tentang Writing Therapy. Writing Therapy yaitu menulis sebagai terapi jiwa. Menulis merupakan salah satu teknik dalam therapy psikologis, bukan sekedar menulis tapi bisa sebagai terapi untuk mengeluarkan emosi yang terpendam, perasaan yang tidak nyaman, masalah yang bertumpuk-tumpuk, yang ketika kita bercerita kepada orang lain tapi tidak terselesaikan.

Writing Therapy ini ada tata caranya dan strukturnya, tidak sekedar tulisan biasa yang sekedar curhat-curhatan. Dengan dipandu kita bisa menuangkan perasaan yang ada dengan cara menulis, bisa menulis dengan cara manual atau  digital. Ada baiknya sih menulis secara manual, karena didalam tulisan tangan itu terkandung banyak makna. Bisa dibaca kepribadiannya dan karakternya, bahkan infonya menulis dengan tangan kiri bisa menguak kepribadiaan kita melalui alam bawah sadar kita. Writing Therapy biasanya untuk orang-orang yang mempunyai unfinished business.

Apa itu unfinished business?

Unfinished business yaitu orang-orang yang mempunyai masalah-masalah yang masih terpendam, atau yang belum terselesaikan, bisa masalah real (nyata) atau emosi-emosi yang masih terpendam yang belum terselesaikan. Efek dari orang yang masih mempunyai unfinished business ini biasanya mudah tersinggung, baperan, gampang marah dan banyak sifat negatif lainnya. Unfinished business ini banyak ragamnya, bisa masalah masa kecil atau pun masalah dengan pasangan hidup.

Writing Therapy bisa dilakukan juga pada anak-anak, yaitu anak yang sudah mempunyai kemampuan bisa menulis tentunya ya, tetapi Writing Therapy ini biasanya untuk orang dewasa kalau anak-anak lebih suka lewat media gambar. Tidak semua orang bisa terbuka kepada orang lain ketika mempunyai masalah, melalui terapi menulis ini kita bisa menyalurkan segala masalah kita melalui tulisan. Yang dibutuhkan pada Writing Therapy yaitu percayakan pada pena kita, bahwa apa yang kita tulis gak ada yang salah, karena terkadang kita takut mengakui kesalahan kita, dan terkadang kita takut mengakui keadaan diri kita. Perasaa itu tidak ada yang salah dan gak ada yang benar, sering dalami jiwa dan gunakan rasa.




Di sesi pertama pada workshop ini mba Nuzulia Rahma Tistinarum menjelaskan secara lengkap mengenai teorinya, para peserta juga langsung diajak praktek untuk menuliskan dan mengungkapkan segala perasaan yang ada lewat dialog Journal Therapy, dengan seseorang yang kita rasa dan ingin kita selesaikan masalahnya. Lewat panduan dari mba Lia semua rasa yang berkecamuk didalam jiwa tertuang mengalir lewat tulisan, dan sesi ini banyak menguras emosi peserta bahkan tanpa sadar banyak yang menangis. Saya yang termasuk susah mengungkapkan perasaan ternyata terbawa suasana juga hingga tanpa sadar meneteskan airmata hehe.

Dan ternyata menuangkan rasa yang terpendam lewat media tulisan lebih mudah daripada sekedar kita pikirkan secara terus menerus, yang ada gak ada jalan keluarnya malah memicu emosi dan bikin stress. Setiap manusia pasti mempunyai masalah, karena sering menganggap remeh suatu masalah terkadang kita membiarkannya hingga bertumpuk-tumpuk dan pada suatu saat masalah tersebut bisa menjadi bom waktu buat diri kita sendiri, sehingga memunculkan emosi tidak stabil.

Emosi lebih terkesan negatif ya misalnya marah, kesal, benci, dendam dan lain sebagainya. Sebenarnya bahagia juga emosi loch tapi kita lebih dominan ke emosi yang negatif. Emosi sebenarnya netral. Kita biasanya sebagai perempuan biasanya menyalurkan emosi yang ada dengan cara shopping, curhat, atau dipendam sendiri. Terkadang curhat bisa sedikit menyelesaikan masalah tetapi kita harus hati-hati memilih teman curhat, bila kita salah memilih teman curhat yang ada masalah kita bukannya terselesaikan malah tersebar luas yang tentunya malah menambah masalah baru.

Di sesi kedua mba Risma El Jundi menjelaskan dari teknik menulisnya, mba risma membagi pengalamannya yang banyak menginspirasi para peserta dalam membuat memoar. Dan diakhiri dengan Teh Deka Amalia yang dalam Delima Project ini berperan menjembatani dari terapy ke writing.



Dalam workshop Writing Therapy ini saya dapat banyak manfaat, salah satunya bisa lebih mengenal diri sendiri dan belajar memaafkan diri sendiri. Dan tidak terasa workshop Writing Therapy berjalan seharian. Dengan Writing Therapy semoga bisa meningkatkan kualitas hidup kita dan kita bisa menikmati hidup dengan lebih bersyukur tanpa dibebani masalah yang ada.


TENTANG DELIMA PROJECT

Nama Delima project sendiri singkatan nama dari 3 wanita pendirinya yaitu Deka, Lia dan Risma. Delima project sendiri berdiri sejak tahun 2016 dan launching pada Februari 2017. Wanita-wanita hebat ini berbagi tugas dalam Delima project, mba Lia bertugas sebagai terapis, mba Risma bertugas dalam teknis menulisnya dan Teh Deka bertugas menjembatani dari terapi ke menulis.




Writing Therapy sangat fleksibel bisa disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Ada beberapa pilihan program dalam Writing Therapy:
1 hari workshop
2 hari workshop
3 hari workshop
3 bulan Training

Berikut biodata pada pendiri Delima project:
Deka Amalia Ridwan (Mantan Dosen Sastra, Trainer dan Founder Women Script Community)
Nuzulia Rahma Tristinarum (Psikolog, Trainer dan Therapist)
Risma El Jundi (Mentor menulis, Penulis dan Trainer).

Bila ada yang berminat mengikuti Writing Therapy bisa menghubungi:
Deka Amalia
Contact : 085771673538

22 comments:

  1. Kalo nulis suka mood2an aku mbak, kyknya seru ikut writting therapy.

    ReplyDelete
  2. Kalo ada lagi, bilang ke aku ya. Mau ikutan juga. Bisa bisa aku nangis se ember nih

    ReplyDelete
  3. Baru tau nih saya tentang Writing Therapy. Thanx infonya mbak ribuch.

    ReplyDelete
  4. keren deh, moga bisa menginsprasi terus

    ReplyDelete
  5. Ternyata ada terapinya ya mbak. saya juga suka me rilekskan diri dengan menulis. terimakasih infonya mbak!

    ReplyDelete
  6. Saya setelah menulis hilang masalah.

    ReplyDelete
  7. Setuju mba. Biasanya kalau nulis jadi lega ya mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mb alida, apalagi klo menulis yg menyenangkan ya

      Delete
  8. menulis emang menghilangkan semua fikiran ya.. hehe tapi kalau udah engga mood.. ya sulit banget memulainya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sy jg gt klo nulis moodnya hrs bagus dl

      Delete
  9. setuju Mbaa, setelah menulis biasanya hati lebih lapang dan terasa lega :)

    ReplyDelete
  10. saya punya seseorang dari masa lalu yang sangat mengganggu hidup. lucunya, saya bisa lepaskan dia seluruhnya, setelah dia saya jadikan tokoh novel. Meski novelnya akhirnya cuma saya nikmati sendiri, tapi semua kenangan ttg dia hilang begitu saja.
    Menulis memang bisa menjadi terapi yang amazing.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah keren mba rahayu bs jd novel, knp gak dipublish

      Delete
  11. menulis bagiku sarana untuk menghilangkan kegalauan nomor 2, setelah mendaki gunung

    ReplyDelete

Mohon jangan berkomentar SPAM, terimakasih.