Saturday, 22 October 2016

18 Tahun Komnas Perempuan, Selalu Ada Untuk Para Korban


18 Tahun Komnas Perempuan, Selalu Ada Untuk Para Korban


Berbicara dan membahas mengenai segala sesuatu yang penuh nuansa perempuan akan selalu mengusik relung sanubari. Perempuan selalu dianggap makhluk yang lemah sehingga selalu terintimidasi oleh pihak-pihak yang merasa mempunyai kekuatan untuk mengintimidasi kaum perempuan. Berbagai kasus kekerasan baik secara phisik maupun seksual kaum perempuan selalu menjadi pihak yang teraniaya.

Sabtu (15/10/2016) bertepatan dengan hari jadi Komnas Perempuan ke-18, saya bersama rekan blogger lainnya mendapat kesempatan untuk hadir di kantor Komnas Perempuan tepatnya di ruang Persahabatan Komnas Perempuan yang terletak di jalan Latuharhari kawasan Menteng di Jakarta Pusat. Pada ulang tahunnya yang ke-18 ini Komnas Perempuan menggandeng blogger untuk office tour kantor Komnas Perempuan disertai talkshow dan makan siang bersama. Komnas Perempuan juga menyediakan ruang Persahabatan ini untuk dibuka umum bagi siapa saja yang ingin mengadakan acara yang terkait mengenai kekerasan terhadap perempuan, gratis loch, bagi yang berminat tinggal mengajukan proposal saja.

Ibu Yuniyanti Chuzaifah selaku Wakil Ketua Komnas Perempuan (photo:dokpri)

Ibu Yuniyanti Chuzaifah selaku Wakil Ketua Komnas Perempuan banyak memberikan penjelasan mengenai awal mula berdirinya  Komnas Perempuan (Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan). Komnas Perempuan lahir dari tuntutan masyarakat sipil terutama kaum perempuan, tuntutan tersebut berakar dari tragedi kekerasan seksual yang dialami terutama oleh perempuan etnis Tionghoa dalam kerusuhan Mei 1998 yang terjadi di berbagai kota besar di Indonesia.

Komnas Perempuan merupakan memorialisasi tragedi Mei, bentuk tanggung jawab negara, pelembagaan gerakan perempuan dalam tatanan negara, dan amanat korban agar tidak terulang. Sebuah konflik harus memberikan hak kebenaran kepada korban. Di kantor Komnas Perempuan terdapat ruang pamer memoralibia peninggalan korban tragedi’98.

Selendang Persahabatan (photo:dokpri)

Pada tragedi Mei 1998 itu terjadi banyak pelanggaran HAM, tindak kekerasan dan kejahatan seksual terhadap perempuan etnis Tionghoa. Terjadinya tragedi Mei 1998 karena pemberontakan atas ketidakpuasan rakyat pada pemerintahan orde baru dibawah pimpinan presiden Soeharto. Kala itu Jakarta menjadi pusat terjadinya reformasi dimana terjadinya tragedi Trisakti dimana ada penembakan terhadap beberapa mahasiswa Trisakti dan terjadinya penjarahan dimana-mana.

Prasasti Monumen Jarum Mei

Untuk mengenang para korban tragedi Mei 1998 dibangunlah Prasasti yaitu monumen Jarum Mei yang artinya menjahit luka di TPU Pondok Rangon, Cipayung di Jakarta Timur. Prasasti setinggi sekitar empat meter merupakan salah satu hak keluarga korban dalam proses pemulihan diri. Dengan adanya prasasti ini keluarga korban dapat menghormati dan melampiaskan kerinduan anggota yang hilang dan menjadi korban, selain itu prasasti ini juga menjadi simbol perjuangan Komnas Perempuan bersama aktivis kemanusiaan dan HAM dalam mengawal tragedi tersebut selama lebih dari 15 tahun.

Mural yang ada di kantor Komnas Perempuan

Kantor Komnas perempuan merupakan lembaga Negara pertama yang mempunyai mural. Mural merupakan bagian dari Komnas Perempuan mensejarahkan peristiwa dan agar publik selalu mengingatnya.

Beberapa mural tersebut adalah:
  • Mural berjudul “Defender” berada dibagian depan gedung, karya Lala Bohang yang menggambarkan perempuan pembela HAM. Gambar didominasi warna ungu yaitu warna yang identik sebagai warna feminis.
  • Mural berjudul “Survivor” yang bercerita tentang penyintas perempuan yang mampu bertahan dalam setiap kondisi, seperti amuba yang membelah diri, perempuan korban berhasil bertahan, mengeliat untuk menjaga kehidupan tetap berlangsung. Mural ini berada disamping gedung.
  • Mural berjudul “Sengkarut Persoalan” berada di belakang gedung dengan tinggi 11 meter. Mural ini karya Mariska Sukarna yang mempunyai arti perempuan selama ini terbelit dengan banyak stigma.
 
Selfie dengan latar belakang Pohon Harapan (photo:dokpri)

SEKILAS TENTANG KOMNAS PEREMPUAN

Komnas Perempuan dibentuk melalui Keputusan Presiden No. 181 tahun 1998, pada tanggal 9 Oktober 1998, tepatnya 5 bulan paska tragedi Mei 1998, diperkuat dengan Peraturan Presiden No. 65 tahun 2005. Walau terbentuknya tanggal 9 Oktober tetapi mengapa Komnas Perempuan ulang tahunnya di tanggal 15 Oktober? Hal tersebut karena Komnas Perempuan pertama kalinya bertemu dengan perempuan korban kekerasan melalui forum dialog nasional pada tanggal 15 Oktober.

Komnas Perempuan adalah satu-satunya komisi nasional di dunia dengan mandat penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Komnas Perempuan adalah putri sulung reformasi, pengawal terdepan hak-hak asasi perempuan. Komnas perempuan juga merupakan lembaga negara yang independen.




Salah satu tujuan didirikannya Komnas Perempuan adalah mengembangkan kondisi yang kondusif bagi penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan penegakan hak-hak asasi manusia perempuan di Indonesia, dan meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan perlindungan hak-hak asasi perempuan.

Selama ini kekerasan seksual terhadap perempuan lebih sering dipermalukan daripada diselesaikan secara hukum. Korban banyak yang tidak mau melapor karena takut, malu, terkesan cenderung disalahkan, dicibir bahkan dijauhi. Pada banyak kasus kekerasan seksual hanya 1 dari 8 kasus yang dilaporkan masyarakat.

Patung Pitulungan (photo:dokpri)

Komnas perempuan berharap peran blogger untuk bisa menyuarakan suara yg tidak bersuara & membangun sejarah mereka-mereka  yang suaranya tidak didengar. Yuk jangan tutup mata dan telinga kita ketika melihat tindak kekerasan dan ketidak adilan terhadap kaum perempuan di sekitar kita. Jangan segan untuk segera melaporkan ke Komnas Perempuan, karena Komnas Perempuan hadir, setia dan bekerja untuk para korban.

Mari kita bantu bersama, katakana tidak pada tindakan Kekerasan terhadap perempuan, dan harus segera dihentikan, setuju!


Komnas Perempuan (Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan)
Jl. Latuharhari No.4B
Jakarta 10310
Telp. (021) 3903963

13 comments:

  1. Duh, kalau bicara korban kekerasan seksual selalu ada rasa geram tapi iya benar, sebagian korban tidak tau apa yang harus dilakukan sesudahnya. Kalau ada semacam panduan langkah2 yang bisa dilakukan korban, rasanya perlu sosialisasi lebih luas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bnr bgt mba murtiyarini,,semoga ke dpnnya pencegahannya trhdp korban kekerasan khusus ya perempuan lbh bs cpt diatas, dan pandan sosialisasi ya lbh tepar ya mba..Trimakasih sdh mampir :)

      Delete
  2. Sebenarnya makin kesini, perempuan korban kekerasan seksual makin banyak ya Mba.. Semoga Komnas Perempuan benar-benar bisa jadi penyambung lidah para perempuan. Yang dibutuhkan sekarang ini adalah pencegahan agar kekerasan seksual itu tidak terjadi lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap bnr bgt mba, kita semua dsini bs ikut berperan membantu sesama perempuan ya mba, semoga kasus2 kekerasan trhdp perempuan bs lbh cpt teratasi dan kasusnya semakin jrg bahkan klo bs tdk ada lg kasus kekerasan itu..aamiin

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  3. Hmmm, memang saat ini perempuan sebagai salah satu tiang penopang bangsa menjadi sorotan.

    Baik sebagai korban kekerasan, pelecehan, kdrt dan masih ada beberapa isu lagi.

    Semoga hadirnya komnas perempuan sejak tahun 1998 membawa perubahan segar dan positif terhadap kaum hawa.

    Terus berjuang meskipun terkadang suara tak digubris.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih bang lius, yuk kita bantu sama2 :)

      Delete
  4. Merinding waktu baca monumen jarum mei, yang punya makna untuk merajut luka para korban. Semoga kedepannya tidak ada kejadian-kejadian yang tidak diinginkan amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin..kita semua berharap tdk akan ada lg kejadian buruk menimpa negara kita ya, terima kasih kunjungannya mas handiko :)

      Delete
  5. Semoga kekerasan terhadap perempuan semakin menurun. Miris setiap kali mendengar kekerasan terhadap perempuan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin..semoga pemerintah semakin intens terhadap segala tindakan kekerasan dan kesewenangan terhadap perempuan, agar semua perempuan indonesia bisa menikmati haknya atas dirinya sendiri utk mendapatkan perlindungan :)

      Delete
  6. Yuk sebagai sesama perempuan saling rangkul biar makin kuat dan ndak jadi korban terus-terusan.

    Salam,
    Syanu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal mba syanu..mari saling merangkul dalam kebaikan untuk sesama perempuan :)

      Delete

Mohon jangan berkomentar SPAM, terimakasih.